Sabtu, 15 September 2012

Analisis Pengalaman Individu



    Ketika kelas 2 SMA, saya merasa sulit untuk memahami pelajaran disekolah terutama pelajaran yang berkaitan dengan hitung-menghitung. Saat pelajaran berlangsung saya selalu berusaha untuk memperhatikan apa yang diterangkan oleh guru tersebut. Namun tetap saja saya tidak bisa memahami ketika guru tersebut menjelaskan. Lalu kemudian saya merasa saya perlu bantuan dari orang lain. Saya mencoba untuk mengikuti bimbel karna biasanya memang orang-orang dalam menyelesaikan masalah belajar mereka selain di sekolah ya di bimbel. Maka dari itu saya mencoba untuk mengikuti bimbel tersebut. Setelah beberapa kali masuk, saya mulai mengerti akan pelajaran-pelajaran sekolah yang juga dibahas di bimbingan tersebut. Selain itu di bimbingan tersebut ada “cara cepat” yang diberikan oleh pengajar di bimbingan tersebut agar siswa-siswa lebih mudah untuk memahami dan menyelesaikan pelajaran-pelajaran di sekolah. Ternyata memang benar saya bisa dengan mudah memahami pelajaran-pelajaran yang tadinya saya rasa sulit. Misalnya dalam pelajaran Matematika, kalau kita mengikuti cara yang dijelaskan oleh guru di sekolah maka untuk menyelesaikan soal-soal latihan yang diberikan akan membutuhkan waktu yang lumayan lama dan jalannya pun bisa-bisa sampai 1 halaman buku. Namun kalau kita menggunakan “cara cepat” tersebut maka kita pun bisa menyelesaikan soal-soal latihan dengan mudah, jalannya pun tidak panjang-panjang dan pastinya kita cepat mengerti dibandingkan dengan teman-teman lainnya yang hanya mengikuti cara seperti yang dijelaskan oleh guru di sekolah. Nah ketika ada latihan-latihan lain di sekolah pun, saya bisa mengerjakan soal-soal tersebut dengan mudah dan cepat tentunya. Disisi lain, teman-teman saya yang tidak mengikuti bimbel memang mampu menyelesaikan latihan-latihan tersebut namun setelah beberapa saat kemudian.

Pembahasan
    Vygotsky memiliki empat prinsip dalam hal pembelajaran yaitu, Pembelajaran Sosial (social leaning), ZPD (Zone of Proximal Development), Masa Magang Kognitif (Cognitif Apprenticeship), dan Pembelajaran Termediasi (Mediated Learning). Berdasarkan teori tersebut, pengalaman saya diatas termasuk pada prinsip yang ketiga yaitu Masa Magang Kognitif (cognitif apprenticeship) dimana Masa Magang Kognitif ini adalah suatu proses yang menjadikan siswa sedikit demi sedikit memperoleh kecakapan intelektual melalui interaksi dengan orang yang lebih ahli, orang dewasa, atau teman yang lebih pandai. Hal ini jelas terlihat pada pengalaman saya dimana saya yang tadinya kesulitan untuk memahami dan mengerjakan soal-soal pada pelajaran matematika namun pada saat saya mengikuti bimbel dan pengajarnya pun membantu saya untuk lebih memahami pelajaran tersebut dengan menggunakan “cara cepat” sehingga saya pun sedikit demi sedikit bisa mengerjakan soal-soal pada pelajaran matematika tanpa bingung-bingung lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar